#UlasanSiber : Heboh Debat Fitur Instagram dan Memperlakukan Permission dalam Aplikasi Fintech

Diterbitkan pada : 2018-07-01 01:36:41 | Diubah pada : 2018-07-01 01:46:32

Penulis : Rinhardi Aldo | Editor : Rinhardi Aldo


Mentubirkan soal fitur dan permission apps !~

gambar-pendukung
Google Play Store

Pengguna apps di smartphone pada seminggu belakangan berdebat soal : permission data-data pribadi hingga soal fitur “ask me question” yang muncul di Instagram.

Persoalan permission data-data pribadi memang menjadi persoalan yang cukup krusial, mengingat hingga tulisan ini dibuat belum ada payung hukum yang tepat mengurusi soal perlindungan data pribadi, dimana terakhir rancangan UU alias Undang-Undang terkait hal tersebut masih dalam pembahasan legislatif.

Perdebatan ini muncul ketika seorang netijen mengupas permission sebuah aplikasi fintech yang memiliki cukup banyak pengunduh. Permission yang ia kupas terutama ada di bagian SMS, telepon dan kontak. Menurutnya, permission yang ada di aplikasi tersebut bermain di “background” untuk mengambil alih kendali data-data dari pengguna yang menggunakan aplikasi tersebut, termasuk kontak yang tersimpan di aplikasi tersebut. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang yang berada di kontak tersebut mengalami kemungkinan untuk dapat dihubungi oleh pihak pengelola aplikasi tersebut untuk meminta penagihan terkait hutang yang orang-orang tersebut tak ketahui.

Memang, hal ini jelas berbahaya. Selain berbahaya secara hukum, juga berbahaya secara etis. Informasi penagihan yang dilakukan bisa saja berbahaya bagi hubungan personal antara orang yang dihubungi dengan orang yang melakukan pinjaman/hutang dengan aplikasi tersebut. Saya tentu saja sepakat kalau permission dalam aplikasi yang kita instal wajib dilihat dan diteliti, serta ditinjau kembali permission tersebut dengan keterkaitannya untuk data-data pribadi pengguna.

Namun, harus disadari pula bahwa ini adalah resiko dari dunia Siber yang serba dengan anonimitas, baik terkait dengan pengelola maupun dengan data-data yang kita submit secara langsung maupun tidak langsung dengan aplikasi tersebut. Resiko ini baik dari saat pengumpulan, pengolahan ataupun penggunaan data. Resiko ini tak bisa kita hindari karena dunia Siber memang mampu “menghilangkan” jejak dari data-data tersebut kemana arahnya.

Terkait dengan resiko, maka upaya preventif ataupun membangun awareness yang dilakukan oleh pengguna aplikasi saja tidak cukup. Tentu saja pemerintah harus hadir dalam hal ini. Memang, pemerintah sudah hadir di aplikasi fintech dengan perizinan yang dilekuarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan/atau Bank Indonesia, sehingga dengan hal tersebut seharusnya sudah cukup memberikan kenyamanan bagi pengguna aplikasi.

Namun, tentu saja hal ini masih belum cukup. Salah satu hal yang harus ditegaskan pemerintah adalah soal UU Perlindungan Data Pribadi. Hal ini mutlak diperlukan, bukan hanya untuk aplikasi fintech, namun semua hal yang berbau siber/techno dan melibatkan data-data pribadi, untuk menjamin data-data ini tersimpan keamanannya, diolah dan digunakan secara benar sesuai etika-regulasi serta tidak diperjualbelikan ke pihak manapun. Selain itu, tentu saja untuk menjadi pedoman bagi penegak hukum dalam menegakkan aturan terkait hal ini.

Namun, sambil menunggu aturan tersebut jadi (ya semoga aja segera jadi yes), maka dari sisi OJK ataupun Bank Indonesia bisa mengambil tindakan dengan membuat agreement atau komitmen bersama dengan industri fintech terkait dengan data-data pribadi dan pengolahannya. Semisal dengan kewajiban pelaporan pengungkapan dan pengolahan data-data pribadi tersebut dan juga membuat aturan yang membatasi pekerjaan aplikasi fintech agar tak bertindak sewenang-wenang menggunakan “anonimitas” yang menjadi pegangan mereka.

Selain soal resiko, tentu saja ada hal yang harus dipahami juga oleh masyarakat luas. Adanya permission pada aplikasi yang kita instal tidak selalu berkaitan dengan “background activity” semata alias “diam-diam memantau atau diam-diam merekam dst”. Sebagian permission pada aplikasi yang kita instal juga berkaitan dengan fitur dan fungsi aplikasi tersebut dibuat.

Semisal fitur kamera. Pada sosial media, fitur ini digunakan untuk memfoto secara langsung dari aplikasi. Pada fintech, fitur ini digunakan sebagai salah satu cara untuk melakukan mekanisme KYC (Know your Customer) alias pengenalan/verifikasi dari nasabah/pengguna aplikasi tersebut, entah itu dengan foto KTP, foto NPWP atau selfie with KTP. Kemudian fitur storage digunakan untuk penyimpanan foto-foto yang terkait dengan aplikasi ataupun kemudahan pengaksesan foto-foto di memori untuk kemudian diupload. Permission SMS, kontak dan telepon, mungkin memang jadi fitur yang cukup rawan. Namun fitur tersebut bisa terkait dengan verifikasi lewat SMS atau yang lazim disebut kode OTP atau bisa terkait dengan komunikasi, semisal menghubungi pihak pengelola aplikasi secara langsung lewat telepon/handphone.

Semua jenis permission ini ada untuk memudahkan kita menggunakan aplikasi dan mencegah adanya problem saat menggunakan aplikasi. Namun jika memang perlu dimatikan, bisa saja dimatikan. Silahkan dipertimbangkan oleh masing-masing individu.

Terkait dengan fitur aplikasi, fitur baru IG yaitu “ask me question” sticker/question sticker menuai pro kontra. Selayaknya aplikasi Sarahah yang pernah menuai pro kontra terkait penggunaannya yang dianggap keliru (karena menyerupai Ask.fm, padahal tidak), maka fitur baru IG ini juga menuai pro kontra karena penggunaannya dianggap keliru. Kebanyakan pengguna IG menggunakan fitur ini sebagai bahan untuk menjawab pertanyaan dari followers mereka (kembali lagi selayaknya Ask.fm), namun yang memprotes mencoba mengembalikan fungsi fitur ini ke khitahnya sebagai medium untuk mengumpulkan jawaban dari followers alias yang membuat IG storieslah yang membuat pertanyaan.

Perdebatan demi perdebatan, share demi share di IG stories mewarnai timeline saya.

Kalau saya si bilangnya : “lu mau gunain itu fitur dengan cara apapun si terserah aja ya, karena kan Instagram sendiri ngga membikin user manual or something like that”.

Iya kan? Iya dong. Fiturnya sendiri juga bisa digunakan dengan berbagai variasi ya sebenernya ngga masalah.

Sama saja seperti tisu toilet yang digunakan buat tisu warung makan, eheheh ~


Kirim komentar disini