SJW dan Opini yang Lain

Diterbitkan pada : 2018-06-17 00:38:44 | Diubah pada : 0000-00-00 00:00:00

Penulis : Rinhardi Aldo | Editor : Rinhardi Aldo


Perlukah counter opini dengan melekatkan istilah-istilah tertentu?

gambar-pendukung
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

“Ah lu kek SJW aja lu sok sokan protes”

“Tau hidup lu ga sans brey ~”

Ada yang pernah mendapat stigma sebagai SJW, ketika mengkritik sebuah hal yang menurut sebagian besar masyarakat adalah “kewajaran, budaya, atau dianggap santai saja semudah memblok akun medsos”?

Yang tak tahu SJW, istilah ini adalah singkatan dari “social justice warrior”. Istilah ini mungkin memiliki banyak definisi. Definisi saya sih secara umum menyebut kalau SJW ini bisa dikatakan orang-orang yang memiliki visi dan misi untuk membetulkan kesalahan-kesalahan dalam society jaman now. Ya, mungkin tipe-tipe orang-orang seperti ini banyak ditemukan di dunia maya. Mungkin juga, saya termasuk dalam definisi saya ini (meskipun saya sendiri sih sebenarnya ngga mau dikasi label-label semacam ini).

SJW banyak disebut oleh netijen ketika mereka melihat komentar “pedas” dari netijen lain yang dianggap terlalu sensitif dengan opini yang dikemukakan netijen lain. Meskipun perbedaan pendapat adalah kewajaran yang hakiki (yes, bentuk freedom of speech). Namun ketika sebuah perbedaan pendapat diserang dengan label-label tertentu yang sebenarnya berkeinginan menjatuhkan opini lain tersebut dengan mempersempit ruang diskusi dan melebarkannya ke soal lain yang tak sama sekali berhubungan, maka apakah masih disebut sebagai kewajaran?

Kalau dikatakan orang yang melakukan kritik terhadap hal tersebut sebagai orang yang sensitif, sebenarnya hal ini aneh. Apa yang salah jika seseorang tersebut sensitif terhadap sebuah hal yang menjadi bahan kritiknya? Tentu menurut saya sih tidak. Ketika sesuatu hal dikritik oleh orang lain, berarti dia punya perspektif lain daripada apa yang orang umumnya katakan. Diluar persoalan apakah kritik tersebut benar dan rasional, sudah semestinya kita belajar untuk menerima kritikan terlebih dahulu dan menghormati orang yang mengkritik selayaknya kita yang mengungkapkan pendapat kita tersebut.

Jadi, daripada mengatakan seseorang sebagai SJW karena menganggap opininya orang tersebut mengindikasikan orang tersebut sebagai “too sensitive”, “ngga bisa diajak bercanda” dst, maka sebenarnya adalah lebih baik mengcounter argumen tersebut secara baik dan benar tanpa harus merendahkan orang tersebut.

Iya ga sih?


Kirim komentar disini