Radio dan Sesumbar yang Tak Bermakna

Diterbitkan pada : 2018-07-07 10:43:54 | Diubah pada : 2018-07-07 10:49:17

Penulis : Rinhardi Aldo | Editor : Rinhardi Aldo


Podcast lebih dari radio? Hmm.

gambar-pendukung
(Kontan/Achmad Fauzie)

Belakangan ini beberapa stasiun radio memutar iklan layanan masyarakat dari PRSSNI terkait dengan “masih potensialnya radio untuk para pengiklan”. Secara sesumbar, mereka menyebut tentang belanja iklan radio secara nasional pada tahun 2017 lalu yang sudah mencapai angka triliunan rupiah.  

Menurut penuturan Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) M Rafiq dalam sebuah kutipan media, Radio ADEC (Advertising Expenditure) mencapai Rp 1,2 triliun dengan 59 persen berasal dari Jakarta yaitu Rp 708,8 miliar, namun ia mengakui adanya tren penurunan sejak beberapa tahun belakangan. "Penurunan iklan di radio hampir semua terjadi di 37 radio Jakarta. Hampir 10-30 persen," sambungnya. 

Memang, ini adalah hasil yang cukup besar ditengah persaingan yang ketat beberapa bisnis media vs bisnis digital yang tengah berkembang sekarang. Namun, hasil ini sebenarnya tak berarti apa-apa. 

Maksudnya? 

Tanpa sadar, industri radio perlahan namun pasti meniru langkah industri televisi. Konsolidasi demi konsolidasi terus dilakukan hingga akhirnya membentuk konglomerasi-konglomerasi radio. Di Jakarta sendiri, cukup banyak konglomerasi-konglomerasi radio yang hidup, baik oleh grup media yang memegang “raja” di industri ini ataupun oleh grup media yang mengembangkan diri ke industri ini setelah masuk ke industri-industri lainnya.  

Tercatat diantaranya ada MRA Media (Cosmopolitan, Trax, iRadio, Brava dan Hard Rock), Mahaka Radio Integra (Gen Fm, Jak FM, Hot FM, Kis FM, Mustang dan Most), MPG Media (Smooth FM dan Virgin Radio), Masima Radio Network (Prambors, Delta, Female dan Bahana), Kompas Gramedia (Motion, Sonora, Smart FM) dan MNC (V Radio, Global Radio, MNC Trijaya dan RDI). Ini baru grup besar. 

Berbicara soal pangsa pasar, grup Mahaka mendaku diri menjadi market leader di Jakarta dengan menempati posisi sekitar 49.3% pada tahun 2017 lalu, naik dari posisi di tahun sebelumnya (2016) di posisi 23%. Kenaikan pangsa pasar ini terjadi setelah konsolidasi dan akuisisi, seperti akuisisi grup stasiun radio dibawah Ramako, sebuah grup radio yang dimiliki oleh keluarga pengusaha Bambang Rachmadi dan anak-anaknya, akuisisi stasiun radio eks MD Radio yang sudah lama hiatus (jadi Hot FM, yang memutarkan lagu-lagu dangdut dan lagu Indonesia – 11:12 dengan RDI) dan juga konsolidasi kepemilikan saham grup Masima Radio Network.  

Pada tahun lalu, grup stasiun radio eks Ramako yang diakuisisi grup Mahaka baru saja melakukan rebranding besar-besaran dan melakukan repositioning pasar. Kis FM, yang tadinya adalah stasiun radio untuk generasi dewasa muda umum, digeser menjadi stasiun radio perempuan.  

Mustang, secara umum tidak jauh berbeda dengan positioning mereka sebelumnya, karena masih menyasar generasi remaja dan anak kuliahan, namun fokus mereka hampir 11:12 dengan Virgin Radio (yang menurut beberapa analisa “kasar” nampaknya menjadi inspirasi dari grup Mahaka, termasuk dengan gaya siaran yang memperkecil durasi bicara dari announcer).  

Sementara itu, Lite FM berubah menjadi Most Radio, dengan segmentasi dewasa diatas 30 tahun dengan lagu-lagu era 80 dan 90an dilengkapi dengan informasi terkini dan sport. Sounds like Ramako di masa lalu ya. Perubahan ini, seperti diungkapkan direktur utama Mahaka Radio, Adrian Syarkawie dalam risalah Public Expose yang mereka gelar beberapa waktu yang lalu, masih belum menunjukkan hasil, namun dirinya optimis akan bisnis radio kedepannya yang cerah.  

Diluar itu semua, secara langsung dan tidak langsung terjadi keluhan yang cukup signifikan terhadap industri radio saat ini. Mungkin masih ada yang mengingat bagaimana #RadioGueMati menjadi perbincangan di dunia maya?  

Dalam banyak keluhan, sebagian netijen menyebut bahwa stasiun radio seharusnya menonjolkan konten-konten yang unik dan berbeda, mengingat karena saat ini hampir semua stasiun radio yang ada menjual branding sebagai stasiun radio yang memutarkan lagu-lagu hits/terpopuler.  

Sementara itu, sebagian yang lain menyebut bahwa era radio – same like industri media lainnya – sudah hampir menuju era sunset. Mereka menyebut konten-konten ala radio sudah bisa dibuat secara digital seperti keberadaan podcast.  

Jika dikatakan bahwa stasiun radio sekarang nampak monoton, saya juga mengakuinya. 

Pola berulang selalu sama : siaran pagi oleh penyiar so-called publik figur, siaran siang hampir tanpa iklan (tapi isinya ocehan penyiarnya juga), siaran sore mulai mengurangi bicara (meskipun beberapa stasiun radio besar masih banyak ocehan) dan siaran malam isinya curhatan soal percintaan atau kalau ngga playlistnya lagu-lagu slow yang kebanyakan juga soal percintaan.  

Begitupun dengan lagu-lagunya. Bukan hanya soal lagu yang diputar berulang-ulang saja. Yang bikin saya heran sih sebenernya kenapa ada lagu-lagu yang nampak kayak disukai oleh stasiun radio tertentu sehingga selalu secara kebetulan saya selalu mendengarkan lagu tersebut di stasiun radio ini.   

Dengan semua hal ini, monoton menjadi sebuah hal yang harus dianggap wajar.  

Apakah ini membuktikan bahwa industri radio sama saja dengan industri televisi? 

Mungkin, secara so-called quality, konten konten industri radio masih cukup terkendali dan jarang offside. Terlihat dari jumlah teguran KPI yang kecil. Namun, secara umum, kecenderungan itu nampak ada. 

Dalam situasi ini, kita harap mahfum bahwa lagu-lagu “alternatif” tak mendapat tempat di radio. Sementara, kita juga mahfum bahwa stasiun radio yang berskala kecil, yang menjadi kegemaran kita, bisa saja satu per satu lenyap dari udara dan tergantikan oleh stasiun radio-stasiun radio semacam yang  banyak kita dengarkan hari ini. 

Sebuah hal yang pada akhirnya memaksa kita untuk menuruti kata netijen yang menyebut bahwa podcast lebih baik daripada stasiun radio, meskipun kita sadar betul bahwa radio tak pernah akan mati sekalipun.


Kirim komentar disini