Dear pembaca Sisi.silang,

Saat ini kami tengah melakukan pembenahan minor terhadap tampilan website ini agar lebih nyaman dibaca. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan kritik dan saran bisa disampaikan di konten@sisi-silang.id. Terima kasih.

(Instagram @motion975fm)
gambar-pendukung

Menggebrak dengan Hitz ala Motion Radio

Rinhardi Aldo


Diterbitkan pada : 2018-07-28 21:24:24 | Diubah pada : 0000-00-00 00:00:00

Yongs ma men, ada yang baru dan ngehitzz.

Hari Senin, 23 Juli 2018 lalu Motion Radio (eh, sekarang kita mesti menyebut mereka Motion975FM) memilih menjadi “berbeda”. Mendaku diri sebagai “Indonesian #1 For Hip Hop and RnB Station”, stasiun radio dibawah grup Kompas Gramedia ini seperti nampak menurunkan segmentasi mereka ke pangsa pasar yang lebih muda dibandingkan sebelumnya.

Sebelumnya, Motion Radio lebih nampak mirip iRadio + Gen FM + Prambors, meskipun secara segmentasi hampir mirip Delta FM. Persaingan di pasar sebelumnya yang sudah terlalu ketat mungkin membuat mereka memilih demikian.

Tanggapan beragam muncul dari perubahan ini. Beberapa musisi di dunia RnB dan HipHop seperti Saykoji mengapresiasi hal ini, sementara bagi banyak pendengar setia Motion975FM mereka cukup kaget dan nampak kecewa atas keputusan yang diambil saat stasiun radio ini baru saja masuk umur 9 tahun. Apalagi, bagi pendengar setia program prime-time pagi Motion, Dagienkz Vena in Motion, yang merasakan perbedaan mendasar konten antara dulu dengan sekarang, salah satunya dengan mengecilnya durasi bicara/talk dari penyiar.

 

Thank you ???????? #Repost @saykoji with @get_repost ??? jangan hiraukan bekas gumoh baby di baju gue ????, radio apa yang harus lo dengerin sekarang? it’s @motion975fm !!! sukses dan selamat, rep the scene rep the culture REP THE LOCAL SKILLS!! • • • NewMotion975, Indonesia’s #1 For Hip Hop and RnB! #newmotion975

A post shared by Motion Radio 97,5 FM (@motion975fm) on



Saya sendiri baru tahu perubahan ini setelah saya mengecek feed instagram stasiun radio ini. Setelah itu saya coba setel ke frekuensi tersebut dan saya jujur harus kaget karena lagu ngebeat, dari lagu hits yang sering juga diputar stasiun radio lain sampai lagu yang “ini baru saya denger” mendominasi. Bisa dikatakan nada sendu seperti yang muncul di Motion sebelumnya hampir tak terdengar selama beberapa waktu saya mendengarkan.

Apakah ini hal yang akan berujung baik atau buruk?

Meskipun stasiun radio ini dikatakan berumur 9 tahun, aslinya stasiun radio ini berumur sudah lebih dari 1 dekade. Perjalanannya dimulai ketika Kompas Gramedia masuk ke Radio Safari Bina Budaya alias Jak News FM pada tahun 2005 lalu yang berbuah konflik dengan karyawan stasiun radio ini.

Konflik reda, muncul nama Otomotion FM sebagai nama baru stasiun radio yang menyasar pendengar berjenis kelamin pria, dengan konten-konten yang fokus pada hal hal berbau otomotif. Tak lama, tahun 2009 muncul nama Motion Radio. Harus diakui, rebranding ini dipilih untuk meningkatkan profit karena kegagalan konsep konten dan segmentasi yang dianut.

Dalam sebuah penelitian yang dibuat oleh Anathasia Citra (April 2013,, salah satu langkah yang dibuat oleh Motion Radio untuk mencoba memenangkan persaingan adalah dengan menarik 2 orang penting dari grup Masima/Prambors, Arie Dagienkz sebagai penyiar dan Anton Wahyudi sebagai program director (saat itu, kini beliau jadi station manager Motion Radio).

Meskipun Arie Dagienkz sempat berpindah ke Global Radio, namun pada tahun 2017 lalu ia kembali hadir dengan pasangan baru yang juga secara kebetulan pernah menjadi penyiar (juga) di Prambors, Vena Annisa. Tahun lalu ia baru kembali dari Amerika Serikat setelah bekerja cukup lama di VOA Indonesia.

Kembali soal strategi baru. Strategi baru ini nampaknya dipilih karena hampir semua stasiun radio terkemuka memakai konsep yang hampir serupa dengan Motion Radio. Bisa dikatakan hampir tak ada perbedaan mendasar apapun jenis segmentasinya, entah itu umum atau perempuan, entah umur 15-25 atau 25-35 tahun, jika melihat persaingan antar stasiun radio yang ada saat ini. Meskipun ada yang melakukan diferensiasi dengan bermain pada lagu-lagu era 90an-2000an awal ataupun memperkecil durasi penyiar berbicara, namun pola dan konsep program programnya disusun dengan cara yang tak terlalu berbeda.

Apalagi ketika kita melihat kebanyakan stasiun radio kini lebih banyak menjual konten lagu.

Meskipun ya lagunya itu lagi, itu lagi. Sebuah pola yang nampaknya akan terus berlanjut dalam beberapa waktu kedepan.

Tapi apapun dan bagaimanapun, selamat dan sukses untuk "gebrakan" barunya.