Manner dan Viral

Diterbitkan pada : 2018-06-05 00:00:00 | Diubah pada : 2018-06-17 03:28:11

Penulis : Rinhardi Aldo | Editor : Rinhardi Aldo


Maha benar netijen dengan segala komentarnya ~

gambar-pendukung
Twitter

Welcome to the world of viral. Semua orang begitu mendamba, mendebat dan bersedih ria didalam konten-konten yang viral.

Sayangnya, ditengah rangkaian konten yang viral, banyak orang sering lupa bahwa approach dan pendekatan etika yang baik dan benar itu seperti apa dan bagaimana.

Mungkin masih banyak yang belum lupa bagaimana viralnya kasus @gitsav, salah seorang influencer berhijab yang tengah merantau di Jerman untuk menuntut ilmu. Kalau ada diantara pembaca yang belum mengetahui kasusnya, mungkin konten dibawah ini akan membantu kamu dan anda memahami kasusnya seperti apa dan bagaimana.

Saya sih ngga mau mencoba meletup-letupkan kasus yang sebenarnya sudah diclose oleh mereka, namun dalam hal ini saya menganggap bahwa netijen alias warganet yang menanggapi kasus inilah yang seharusnya perlu disorot, dibandingkan menyorot "manner dan anger management" belaka seperti yang diungkapkan warganet untuk @gitsav.

Selain soal "menghadapi orang yang tengah (maaf) goblok-gobloknya saat mengalami blunder" seperti yang pernah saya ceritakan di Twitter, rupanya ada hal lain yang bisa disorot. Netijen, dalam menghadapi kasus ini seringkali mengabaikan manner.

Iya, aneh. Mereka yang berkoar-koar soal menjaga manner menghadapi orang asing, namun justru saat berkomentar dan beropini, mereka justru juga menghadapi masalah saat menjaga manner mereka sendiri. Hampir dikatakan, dalam kasus @gitsav yang ramai di timeline saya bukan soal bagaimana manner itu menjadi penting, namun soal orang-orang yang mendapat panggung karena adanya problem dengan dia dan kemudian ada yang menyoroti pribadi dan jejak-jejak digital dia yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan masalah yang dia alami sekarang. Meskipun memang hak orang untuk merasa suka atau tidak suka, namun ketika semua hal jadi dikupas sedemikian rupa hingga melebarkan persoalan dan menjadi bahan pergunjingan, kemanakah manner itu? Kemanakah manner yang coba mereka agungkan, ketika mereka justru melakukan approach secara tidak baik?

Ya, bisa dikatakan respon-respon netijen ini adalah respon yang sebenarnya manusiawi. Mereka biasanya selalu menyimpan dan mengingat jejak-jejak orang yang bersalah. Ada yang menyimpan jejak-jejak ini untuk mengingatkan, ada juga yang menyimpan ini untuk menjadi bahan cibiran dan nyinyiran tiada henti. Namun, semua respon semacam ini jika tidak dikendalikan justru memicu cyberbullying. Sebuah hal yang saya tahu pasti akan diganyang oleh netijen-netijen yang melakukan approach tidak baik tersebut. Memang sih, kalau berdasar kronologi yang ada, @gitsav sebenarnya pun juga salah. Saya tentu juga tak sedang membenarkan perilakunya. Namun, adakalanya reaksi orang dalam menanggapi suatu kasus juga sama pentingnya dengan si pelaku dan korban dalam satu kasus tersebut.

Inilah dunia siber. Menjunjung anonimitas yang membuat kita mudah merasa bisa menghilang layaknya "makhluk ghoib". Padahal, jangan salah. Anonimitas semacam ini juga bisa tak terkontrol. Sebuah hal yang justru membuat kesalahan yang ada menjadi sebuah masalah tiada akhir. Termasuk juga saat menanggapi konten-konten viral.

Salah satu keunggulan respon netijen adalah membangun narasi yang serupa, yang sebenarnya tidak murni dibentuk oleh netijen, namun justru oleh algoritma milik sosial media. Sebuah hal yang menjadikan monopoli atas opini yang berkembang, yang terkadang bisa menjadi bentuk support yang positif dan bisa juga menjadi bahan debat kusir dan nyinyiran yang melebar kemana-mana. Kalau memang menjadi support positif, ya tentu tak akan jadi masalah. Kalau justru malah jadi debat kusir? Narasi serupa pada kondisi ini pada akhirnya menjadikan kita tak mampu belajar untuk menghormati yang berbeda pandangan, yang justru sebenarnya sedang melecehkan akal sehat.

Selain itu, narasi serupa ini juga berbahaya karena dalam beberapa kasus, hal ini dapat menggiring terjadinya "main hakim sendiri" di ranah maya. Kita tentu sudah tahu bagaimana bahayanya main hakim sendiri semacam ini di dunia nyata, bagaimana kalau ditarik di ranah maya? Pasti akan menjadi situasi yang chaos.

Dengan demikian, manner akan menjadi suatu hal mendasar yang perlu diperhatikan. Tentang bagaimana menghadapi perbedaan pandangan. Tentang berkomunikasi pada isu sensitif dan seterusnya. Masalahnya, kembali lagi, apakah netijen sudah memahami ini? 


Kirim komentar disini