Konstruksi Sosial yang (tak pernah) Adil

Diterbitkan pada : 2018-04-24 00:00:00 | Diubah pada : 2018-06-05 00:00:00

Penulis : Rinhardi Aldo | Editor : Rinhardi Aldo


Sayangnya, konstruksi sosial yang terjadi di FTV sudah kadung diakui oleh kebanyakan masyarakat.

gambar-pendukung

Entah kenapa, belakangan ini ketika waktu senggang saya dihabiskan untuk menyaksikan FTV ‘religi’ yang ditayangkan Indosiar. Bukan. Bukan karena judul panjang yang viral di sosial media beberapa waktu yang lalu. Saya menyetelnya hanya sekedar untuk membuat ruangan jadi tidak sepi. Ya, saya mencoba menonton ketika waktu senggang saat bekerja.

Dalam beberapa judul FTV ‘religi’, saya sering melihat bagaimana kesenjangan status, penampakan dan jalan cerita dari FTV tersebut. Seringkali saya melihat cerita-cerita dimana orang-orang kaya dinampakkan sebagai orang-orang rakus, tidak pernah puas akan hartanya, pelit yang tak berkesudahan, tapi noraknya nauzubillah. Bagaimana tidak norak, hampir setiap hari uang selalu dihabiskan dengan belanja ini itu, menghabiskan uang hingga jutaan rupiah dan hasilnya menenteng banyak tas belanja. Selain itu, ada juga adegan dimana perhiasan dipakai semua, entah di leher ataupun di jari-jari tangan.

Sementara, orang-orang miskin dinampakkan sebagai orang yang konsisten dan memiliki persistensi dengan kebaikan dan religiusitas serta integritas yang baik. Kesabaran yang seakan tiada batas dan selalu dinampakkan terlalu menderita. Dalam beberapa kasus, bagian dari orang-orang miskin ini ada yang ingin pindah menjadi orang kaya hingga rela melakukan apapun demi mendapatkan kekayaan.

Jalan cerita yang sering disebut sebagai kisah nyata ini memang mungkin saja terjadi di kehidupan sehari-hari. Namun, apakah ini adalah konstruksi sosial yang sesungguhnya?

Jelas tidak. Tidak semua orang kaya selalu kerjanya menghabiskan uang setiap hari jutaan rupiah untuk kebutuhan non produktif alias hanya untuk  sekedar menjaga gengsi belaka didepan kolega, teman, saudara ataupun klien. Bahkan, dalam banyak cerita, orang kaya di negeri ini justru ada yang berpenampilan biasa saja. Mereka tak pelit dan mereka tak norak.

Orang kaya juga terkadang sering digambarkan sebagai orang yang bisa dengan mudah mengangkangi peraturan yang ada, hanya dengan kekuasaaan dan uang yang mereka punya. Kenyataannya, tidak semua orang kaya rela untuk menyuap terus menerus. Juga, tentu saja tidak semua orang kaya mau untuk menyuap.

Begitupun orang miskin. Apakah mereka selalu hidup dengan kebaikan dan tanpa cela sekalipun? Jelas tidak. Banyak cerita soal pelanggaran hukum yang dilakukan oleh orang miskin, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Meskipun penyebab umumnya adalah terkait penghidupan diri dan keluarga, namun toh mereka juga tak pernah tanpa cela. Tidak semua orang miskin juga punya religiusitas yang tinggi serta hidup menderita hingga memenuhi trotoar selayaknya yang digambarkan di FTV. Dalam banyak kasus, orang-orang seperti ini justru berani melawan situasi yang keras dan aparatur negara yang melakukan tindakan semena-mena. Mereka bisa berdaya.

Sayangnya, konstruksi sosial yang terjadi di FTV sudah kadung diakui oleh kebanyakan masyarakat. Sehingga, terkadang dalam banyak situasi, konstruksi tersebut seringkali digunakan sebagai pembenaran, tak peduli soal benar atau salah. Meskipun memang toh ini bukan kesalahan FTV seutuhnya, karena memang stigma dan konstruksi sosial semacam ini sudah berlangsung sejak lama.

Konstruksi sosial seperti rupanya melebar kemana-mana.

Baru-baru ini, mentalist dan pembawa acara Deddy Corbuzier mencabik-cabik orang-orang (yang disebut bagian) ‘alay’ sebagai sebuah hal yang patut dipersalahkan untuk program TV yang kualitasnya dianggap rendahan.

Memang, harus suka tidak suka kita akui, program TV yang seringkali dianggap rendahan memang banyak disimak di televisi. Terbukti dari hasil pemeringkatan rating dan share program televisi harian yang kini bisa disimak di sosial media dengan begitu mudahnya. Kita melihat pada peringkat top 20, program-program yang rendahan ini mendominasi pemeringkatan.

Namun, apakah ini hanyalah kesalahan soal orang-orang ‘alay’ yang dianggap rela melacurkan diri dengan membuat dan menjadi bagian dari program TV yang rendahan tersebut? Percaya atau tidak, semua adalah bagian dari narasi yang terbentuk dari konstruksi sosial. Konstruksi sosial yang sedemikian rupa membuat kita berani berpandangan demikian. Padahal, selayaknya perbandingan orang miskin dan orang kaya tadi, program TV yang ‘alay’ dan program TV yang ‘berkualitas’ pun juga sama saja.

Sama-sama punya kesalahan. Sama-sama punya potensi. Toh apa bedanya?

Selain itu, apakah orang-orang ‘rendah’ dan ‘alay’ hanya suka tentang program TV yang aneh-aneh dan ‘alay’ pula? Tentu saja tidak. Manusia lahir dengan segala macam kompleksitasnya sendiri, termasuk soal selera. Tentu selera saya dengan selera kamu ataupun anda beda-beda, bukan? Selera yang berbeda ini dipengaruhi banyak faktor. Sebuah hal yang sah-sah saja.

Ini tentu saja bukan berarti program TV yang aneh-aneh dan melanggar peraturan dilestarikan. Tentu saja tidak. Namun, ini membutuhkan perubahan di banyak segi. Perubahan paling signifikan adalah soal mindset. Baik dari sisi industri TV, regulasi maupun dari sisi masyarakat. Dengan bertahan pada konstruksi sosial dan narasi semacam ini, selain tentu saja tidak kunjung menemukan akar masalah yang sebenarnya, juga tentu saja menyuburkan pandangan-pandangan serta stigma keliru yang membuat kita tak bisa melihat kebenaran hakiki.


Kirim komentar disini