Euforia (Kritik) di Asian Games

Diterbitkan pada : 2018-08-26 12:19:53 | Diubah pada : 2018-08-26 23:51:08

Penulis : Rinhardi Aldo | Editor : Rinhardi Aldo


Yha, kenapa lagi Escetepe ~

gambar-pendukung
(vidio.com)

“Sukseskan Asian Games”. Sebuah pesan yang rasanya sudah terlalu bertebaran dimana-mana di sudut kota yang saya lihat. Tak peduli apakah itu bank, restoran, gedung kantor hingga lembaga pemerintah, semua berpesan sama. Ada yang desainnya template dan ada yang desainnya agak antimainstream. Hehe.

Pesan ini rupanya cukup ampuh untuk menarik perhatian masyarakat untuk tahu dan mengikuti jalannya Asian Games ke 18 yang diselenggarakan di Indonesia ini. Sebagai tuan rumah, tentu saja sorak sorai semacam ini wajar adanya.

Terlihat dari bagaimana antusiasme masyarakat menyaksikan opening ceremony Asian Games yang dipuji oleh banyak kalangan (meskipun ada juga yang balik-balik menghubungkan ke soal politik) hingga antusiasme masyarakat menonton langsung pertandingan di beberapa venue Asian Games yang kemudian viral karena persoalan pengurusan tiket untuk ke venue yang penuh dengan birokratis dan ketidakjelasan.

Oke, saya ngga bakal bicara dari sisi tersebut ataupun sisi lainnya karena saya menulis ini untuk bagian Media di Sisi.silang.

Kemarin di Twitter saya melihat ada protes yang cukup viral dari seorang jurnalis olahraga @ainurohman terkait gaya komentar dari komentator pertandingan balap sepeda yang ditayangkan SCTV.



Memang sih, saya tak terlalu paham tentang pertandingan olahraga ataupun istilah istilah yang ia sebutkan di thread twitnya tersebut. Namun, keluhan soal gagapnya host komentator pertandingan yang ditayangkan SCTV dan Indosiar sebagai broadcaster utama (broadcaster tambahan : TVRI-Metro TV-TV One) yang berarti menyorot dua nama : Valentino Simanjuntak alias Valen “Jebret” dan Rendra Soejono menjadi sebuah hal yang marak.

Memang sih, bung Rendra tak banyak disorot. Valen “Jebret” paling banyak disorot, terutama dalam tayangan bulutangkis yang sehari hari menjadi “santapannya” belakangan ini. Banyak yang menyebut komentarnya condong lebih mirip penonton tayangan olahraga belaka dan sangat tak berisi. Hanya berisi jargon jargon khas yang lama kelamaan menjadi gangguan.

Namun, dalam protes yang viral tersebut, gantian bung Rendra yang disorot.

Kebetulan saya tak mengamati tayangan olahraga di SCTV, dimana bung Rendra yang ditugaskan untuk menjadi host pertandingan olahraga di stasiun TV tersebut (sementara Valen “Jebret” ditugaskan untuk tayangan olahraga di Indosiar) sehingga saya tak akan berkomentar panjang terkait hal tersebut.

Saya kebetulan mengamati pertandingan olahraga di Indosiar, yang pada waktu belakangan ini lebih banyak menayangkan pertandingan bulutangkis. Memang sih, ada beberapa momen yang menurut saya agak mengganggu ketika Valen “Jebret” memekik beberapa jargon khasnya, seperti Jebret itu sendiri. Komentar dari Yuni Kartika dan bung Broto terkadang kalah “volume” dibandingkan rasa greget yang dipekik oleh Valen.

Banyak yang menyebut komentar dari Valen sangat mengganggu. Iya, memang demikian.

Namun persoalan utama bukan hanya tentang ketidakpahaman host dari pertandingan tersebut ataupun soal gangguan tersebut.

Penguasaan hak siar yang dipegang oleh satu grup konglomerasi seperti Emtek yang dimotori oleh Indosiar dan SCTV sebenarnya “bermasalah”. Bukan, bukan soal izin atau soal sejenisnya. Namun lebih condong kepada pemerataan siaran olahraga yang bisa ditayangkan. Meskipun upaya ini sudah dilakukan dengan menggandeng 3 stasiun TV lain yang saya sebut diatas, namun persoalannya yang dibagi ke stasiun TV lain hanyalah pertandingan olahraga yang bukan termasuk “diidolakan” atau “diperhatikan” masyarakat.

SCTV dan Indosiar memegang lebih banyak hak siar untuk olahraga yang ”diperhatikan" masyarakat tersebut, seperti sepakbola dan bulutangkis yang bahkan mampu mendobrak persaingan diantara stasiun TV lain yang masih mengcounter dengan sinetron. Meskipun ada cabang olahraga lain yang menuai rating yang bagus, namun masih nampak sepakbola dan bulutangkis yang menjadi perhatian.

Bahkan, pada ulang tahun SCTV ke 29 kemarin, tayangan pertandingan sepakbola antara Uni Emirat Arab vs Indonesia yang menuai komentar pedas diantara para penggila sepakbola akibat kebijakan wasit menjadi salah satu sajian ulang tahun SCTV sebelum malam puncaknya.

Selain itu, dengan protes yang ada, juga menunjukkan adanya kegagalan SCTV dan Indosiar, sebagai motor dari penayangan siaran Asian Games untuk melakukan riset mendalam terkait cabang olahraga yang ditayangkan, termasuk juga soal narasumber yang tepat untuk jadi komentator pertandingan. Meskipun tidak semua komentator pertandingan yang mereka hadirkan keliru, namun kritikan yang saya kutip diatas cukup menggambarkan adanya hal tersebut.

Pesoalan riset ini memang bukan persoalan yang mutlak hanya dialami Indosiar dan SCTV, namun juga kebanyakan stasiun TV juga mengalami masalah yang demikian. Sudah cukup banyak kasus yang terjadi hanya karena riset yang kurang mendalam dan teliti.

Suka ngga suka, ini berasal dari cara kerja stasiun TV yang berkembang saat ini. Kasusnya hampir serupa dengan sinetron dan FTV kejar tayang. Tim thinktank yang berjumlah sedikit, harus diperas dengan sistem kejar tayang dengan deadline serta keterbatasan yang ada untuk melakukan riset konten yang menyebabkan konten yang ada condong dangkal dan banal, sehingga menyebabkan kegagalan dalam memberikan pemahaman lebih kepada penonton.

Ada yang menyebut ini adalah akibat (lagi-lagi) selera masyarakat yang tak mau hal yang “berat-berat” dalam tontonannya. Ada juga yang menyebut karena budgeting yang terbatas. Bahkan, seorang petinggi stasiun TV berani menyebut bahwa salah satu penyebab hal ini adalah televisi hari ini bekerja sebagai bisnis, bukan sebagai industri. Hal ini karena sudut pandang para pemilik stasiun televisi yang condong mengarahkan stasiun TV yang ia punyai untuk kepentingan diri dan kekayaannya.

Apapun alasannya, sebenarnya alasan-alasan tersebut tidak lagi valid, apalagi jika menyangkut program faktual yang banyak bermain data dan fakta-fakta. Kesadaran para broadcaster jika menyentuh program faktual bukan lagi hanya sekedar proses kreatif dan brainstorming agar programnya diterima masyarakat, namun juga mempersiapkan riset dan konten yang utuh.

Ada protes lain yang sebetulnya masih berhubungan dengan broadcaster dari Asian Games ini, dimana siaran lewat satelit FTA diacak (terkait lisensi broadcasting antar negara) sehingga pemirsa yang menyaksikan siaran lewat satelit FTA tidak dapat menyaksikan pertandingan. Karena hal ini, Menpora pak Imam Nahrawi bahkan sampai bertemu perwakilan dari grup Emtek, Harsiwi Achmad dan sempat menyurati OCA (Olympic Council of Asia) terkait dengan hal ini. Namun, rupanya hal ini gagal membuahkan hasil.

Ya, untuk kali ini sebenarnya grup Emtek sudah cukup lebih baik dibandingkan ketika ia menayangkan Olimpiade Rio 2016 lalu yang menuai protes luas hingga viral di sosial media. Mungkin karena Indonesia tuan rumah kali ya, hehe.

Namun kritikan kritikan tersebut semakin membuktikan bahwa pembenahan dalam banyak aspek dalam pertelevisian Indonesia tetap menjadi kunci utama.

NB : Selain Valentino Simanjuntak dan Rendra Soejono, ada 2 host tayangan pertandingan Asian Games di SCTV dan Indosiar yang lain : Edwin Setyadinata & Tio Nugroho. 


Kirim komentar disini